Matching Fund-Kedaireka Akselerasi Riset dan Inovasi Perguruan Tinggi

Jakarta – Untuk mengakselerasi riset dan inovasi perguruan tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) telah menjalankan program Matching Fund-Kedaireka sejak tahun 2021. Matching Fund merupakan dana padanan yang diberikan kepada perguruan tinggi dan industri yang berkolaborasi dalam pengembangan inovasi melalui platform Kedaireka.

Pada tahun 2021, Matching Fund telah mendanai sebanyak 427 proposal kolaborasi antara insan perguruan tinggi dengan industri lewat Kedaireka. Tahun 2022, jumlah proposal yang didanai meningkat menjadi 1.093 proposal.

Tim Ahli Matching Fund Kedaireka, Tjan Basaruddin menyampaikan bahwa program Matching Fund dibuat tidak hanya untuk menghilirisasi inovasi yang sudah dilakukan oleh insan perguruan tinggi, tetapi juga untuk menghuluisasi masalah yang ditemukan di dunia nyata untuk diteliti dan ditemukan jawabannya.

“Problem-problem riil di dunia nyata, dunia industri, bisnis maupun pemerintah, akan dibawa ke substansi akademiknya untuk dijadikan suatu scientific knowledge. Maka dari itu, kementerian menyediakan pendanaan sebagai padanan atas pendanaan yang sudah diberikan oleh pihak bisnis, industri, maupun pemerintahan untuk memecahkan problem-problem tersebut,” ucap Tjan pada Diskusi Hasil Inovasi Terbaik Pendanaan Matching Fund, Pameran Hakteknas 2023 yang digelar 11-13 Agustus 2023 di Plaza Tenggara GBK Jakarta,

Program Matching Fund-Kedaireka telah berkontribusi dalam mempercepat proses hilirisasi hasil riset dan inovasi insan perguruan tinggi ke dunia industri. Dwi Rahmalina dari Fakultas Teknik Universitas Pancasila menyatakan program Matching Fund ini memberikan kesempatan pendanaan terhadap produk inovasinya berupa Prototype Kursi Roda Penyandang Disabilitas. Matching Fund berhasil mewujudkan terealisasinya produk inovasi ini dengan berkolaborasi dengan mitra-mitra terkait.

“Produk ini beranjak dari adanya kebutuhan kursi roda untuk anak penyandang disabilitas. Berdasarkan diskusi secara intens dengan mitra terkait, maka kami memperoleh spesifikasi kebutuhan terkait desain kursi roda yang dibutuhkan, sehingga penyandang disabilitas bisa melakukan mobilitas kesehariannya. Melalui kolaborasi dengan mitra, kami juga berkesempatan untuk secara langsung melakukan perancangan konsep produk yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa di perusahaan mitra,” ucap Dwi.
Baca Juga :  Plt. Dirjen Dikti: Membangun Pembelajaran Lewat Teknologi untuk Kemajuan Pendidikan
Lebih lanjut, Dwi menyampaikan berkat pendanaan Matching Fund yang kembali didapatkan timnya di tahun 2023, semakin membuka kesempatan bagi tim untuk meningkatkan kesiapan produk agar bisa segera digunakan dan dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat luas.

“Untuk tahun 2022 target kami adalah prototype beta dengan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 7. Target kami di tahun 2023 ini meneruskan sehingga TKT 7 meningkat menjadi 8 dan 9 dan siap produksi. Jadi kami melengkapi lini produksinya di PT MAK,” tambah Dwi.

Hal yang sama diungkapkan Johny Wahyuadi dari Universitas Indonesia. Hasil risetnya yaitu Silika Sekam Padi berhasil mendapatkan pendanaan Matching Fund tahun 2022. Silika yang digunakan dalam berbagai macam barang di kehidupan sehari-hari masih banyak yang menggunakan silika hasil impor, terutama pada produk kosmetik. Lewat program Matching Fund, Johny ingin mengolah sekam padi dari suatu hal yang banyak dibuang menjadi hal berguna, yaitu dengan mengekstrak kandungan silika di dalamnya untuk digunakan dalam produksi kosmetik.

“Saya mencoba untuk mengembangkan bahan baku silika sehingga sesuai dengan standar industri kosmetik. Dengan adanya pendanaan dari Matching Fund, kita bisa melanjutkan penelitian awal yang hasilnya bisa dijadikan berbagai macam luaran, salah satunya yang terpenting adalah produk yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Johny.

Pada kesempatan lainnya, Aulia Arif Iskandar dari Universitas Swiss German juga menyampaikan bahwa Matching Fund turut mendukung produk inovasinya berupa alat pendeteksi dini kelainan jantung bernama Dugdug Mini EKG Wearable. Bentuk dukungan Matching Fund berupa partisipasi mitra dan pendanaan, terutama untuk menghasilkan kemasan berstandar alat kesehatan sehingga alat ini bisa dipasarkan ke masyarakat luas.
Baca Juga :  Kemendikbudristek dan Huawei Optimalkan Pemanfaatan AI dan Cloud Untuk Tingkatkan Mutu Pendidikan di Era 5.0
“Mencari mitra yang bisa membuat kemasan yang standar itu menjadi tantangan sendiri. Setelah menemukan itu, lalu ada Matching Fund. Untuk pendanaan tahun ini, fokusnya lebih kepada kemasan, karena tentunya ketika ingin hilirisasi, ingin menjual produk ini kemasannya harus sesuai dengan standar alat kesehatan,” ujar Aulia.

Program Matching Fund-Kedaireka hadir untuk mendukung transformasi ekonomi Indonesia yang berbasis pada inovasi. Pendanaan yang diberikan pada program ini menyasar lima bidang fokus riset yaitu ekonomi hijau, ekonomi biru, ekonomi digital, penguatan pariwisata, dan kemandirian kesehatan.

Di bidang kemandirian kesehatan, Matching Fund turut mendukung pengembangan vaksin flu burung yang diciptakan Prof Amin Soebandrio dari Universitas Indonesia. Prof Amin mengatakan berkat pendanaan Matching Fund yang dihadirkan melalui mitra dapat melancarkan proses penciptaan produk vaksin flu burung, terutama dalam memenuhi kebutuhan penelitian berskala besar.

“Pengembangan ini telah melewati berbagai proses hingga ke tahap produksi. Telah banyak rintangan yang kita lalui, salah satunya mengenai pendanaan. Program Matching Fund telah membantu dalam bidang material guna mewujudkan terciptanya vaksin flu burung ini,’’ ujarnya.

Ali Nur Maghribi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) juga ikut merasakan manfaat dari Matching Fund-Kedaireka terhadap inovasi perangkat monitoring pasien cerdas miliknya. Menurutnya, konsep utama Matching Fund-Kedaireka berupa kolaborasi antara perguruan tinggi dan perusahaan mitra yang dapat memudahkan terealisasinya produk inovasi.

“Kami bekerja sama antara ITB dengan perusahaan PT Niki dimana perusahaan tersebut sudah memiliki CPAKB dan sertifikat lainnya. Jadi untuk realisasi produk ini akan mudah jika dibantu dengan perusahan,” tutur Ali.
(YH/DZI/FH/DH/NH/SH/MSF)

Artikel ini disadur dari https://dikti.kemdikbud.go.id/ sebagai kliping/arsip saja, perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber berita.

Scroll to Top